Canang Sari merupakan salah satu jenis banten atau sarana persembahan dalam agama Hindu Bali yang paling sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Canang biasanya dihaturkan sebagai bentuk rasa syukur, penghormatan, dan wujud bhakti umat Hindu kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) atas segala berkah yang telah diberikan. Canang juga menjadi simbol ketulusan hati manusia dalam menjalankan kewajiban beragama.
Dalam kehidupan masyarakat Bali, canang dapat ditemukan hampir setiap hari, seperti di pura, merajan (tempat suci keluarga), rumah, toko, kantor, kendaraan, maupun tempat yang dianggap memiliki nilai kesucian. Walaupun bentuknya sederhana, canang memiliki makna yang sangat dalam karena setiap unsur di dalamnya memiliki simbol tertentu.
Isi dari canang biasanya terdiri dari ceper atau wadah dari janur, bunga dengan berbagai warna, porosan (daun sirih, pinang, dan kapur), jajan, buah, serta dilengkapi dengan dupa. Bunga dalam canang melambangkan kesucian dan keindahan, sedangkan porosan melambangkan keseimbangan dan hubungan harmonis dalam kehidupan.
Fungsi utama canang adalah sebagai media untuk menyampaikan doa, rasa terima kasih, dan penghormatan kepada Tuhan. Selain itu, canang juga mengajarkan nilai kehidupan seperti keikhlasan, kesederhanaan, dan rasa peduli terhadap lingkungan sekitar.
Perkiraan harga canang:
Canang sederhana biasanya memiliki harga sekitar Rp1.000–Rp3.000 per buah, sedangkan canang yang lebih lengkap dapat mencapai sekitar Rp5.000–Rp10.000 per buah, tergantung ukuran, bahan, dan daerah pembuatannya.